Cahaya Hidup di Ujung Penantian

Hanya kegelapan yang bisa mengerti tentang perasaanku.
Gelap menjadi teman terbaik dalam kesendirian dan kesunyian ini.

Tapi, bukan berarti aku membenci cahaya. Tidak! Tidak sama sekali.
Aku menyukai cahaya, bahkan sangat menginginkan terangnya.
Namun cahaya, sepertinya berpaling dariku dan hanya gelap yang menemani.

Aku merasa dipermainkan oleh cahaya. Yang datang sekejap, lalu pergi.
Aku tercampakkan, aku marasa sangat tercabik, terluka, dan sungguh hancur.

Kini aku belajar untuk mengerti dan berusaha bangkit lagi.
Aku tidak ingin merasa semakin terkhianati dan menjadi pecundang.
Aku mencoba menerima dan menata kembali hati yang telah terkoyak. Meski tidak sebenarnya utuh.

Iya, retakan yang sangat jelas dan tak akan membuatnya sama seperti dulu.
Meski seperti itu, aku belajar untuk memaafkan apa yang telah terjadi.
Hingga pada akhirnya kutemukan kedamaian dalam kegelapan di tengah kesendirianku.

Sekarang aku pun memilih untuk tetap seperti ini.
Hingga ada cahaya yang siap menerangi mata yang tak mampu lagi berkedip.

Aku percaya, akan ada saat terindah yang datang dengan sendirinya tanpa diatur, disadari, dan tanpa disiasati.
Karena aku tahu, akan ada segelintir hati tulu di luar sana yang siap menjadi cahaya dalam hidupku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *